Quantcast
Channel: Purwokerto Antik
Viewing all 2062 articles
Browse latest View live

Cap Batik #31

$
0
0


Cap batik lawas dari tembaga
dimensi  10 x18cm
Barang bekas pakai, belum dibersihkan 
masih ada sisa-sisa "malam" / wax
Rp. 225.000,-

Cap Batik #30

$
0
0


Cap batik lawas dari tembaga
Panjang 26 cm
Barang bekas pakai, belum dibersihkan 
masih ada sisa-sisa "malam" / wax
Rp. 300.000,-

Cap Batik #29

$
0
0


Cap batik lawas dari tembaga
panjang  26 cm 
Barang bekas pakai, belum dibersihkan 
masih ada sisa-sisa "malam" / wax
Rp. 300.000,-

Cap Batik #28

$
0
0


Cap batik lawas dari tembaga
dimensi  13 X 14cm 
Barang bekas pakai, belum dibersihkan 
masih ada sisa-sisa "malam" / wax
Rp. 175.000,-

Cap Batik #27

$
0
0


Cap batik lawas dari tembaga
dimensi  21 X 17cm 
Barang bekas pakai, belum dibersihkan 
masih ada sisa-sisa "malam" / wax
Rp. 300.000,-

Cap Batik #26

$
0
0

Cap batik lawas dari tembaga
dimensi  14,5 X 8,5cm 
Barang bekas pakai, belum dibersihkan 
masih ada sisa-sisa "malam" / wax
Rp. 150.000,-

Kursi Taman Besi #7

$
0
0





Set kursi taman besi 
Sudah finishing ulang
Rp. 2.250.000,-

Kursi Taman Besi #6

$
0
0


Kursi taman besi single
Sudah finishing ulang
Rp. 375.000,-

Tegel Antik #21

$
0
0




Tegel antik peninggalan zaman kolonial, dimensi per biji 20 x 20cm,
Jumlah total 150 biji (pada foto hanya tampak 100 biji)
Kondisi belum dibersihkan, barang bekas bukan baru jadi pasti ada cacatnya
Berat per tegel sekitar 2,5 Kg
Rp. 1.750.000,-

Tegel Antik #25

$
0
0



Tegel antik peninggalan zaman kolonial, dimensi per biji 20 x 20cm,
Motif campur, jumlah 24 biji
Kondisi belum dibersihkan, barang bekas bukan baru jadi pasti ada cacatnya
Berat per tegel sekitar 2,5 Kg
Rp. 275.000,-

Tegel Antik #22

$
0
0





Tegel antik peninggalan zaman kolonial, dimensi per biji 20 x 20cm,
Jumlah 100 biji
Kondisi belum dibersihkan, barang bekas bukan baru jadi pasti ada cacatnya
Berat per tegel sekitar 2,5 Kg
Rp. 1.250.000,-

Tegel Antik #26

$
0
0



Tegel antik peninggalan zaman kolonial, dimensi per biji 20 x 20cm,
Jumlah 25 biji
Kondisi belum dibersihkan, barang bekas bukan baru jadi pasti ada cacatnya
Berat per tegel sekitar 2,5 Kg
Tegel border ada yang berbeda warna
Rp. 300.000,-

Tegel Antik #24

$
0
0


Tegel antik peninggalan zaman kolonial, dimensi per biji 20 x 20cm,
Jumlah 30 biji
Kondisi belum dibersihkan, barang bekas bukan baru jadi pasti ada cacatnya
Berat per tegel sekitar 2,5 Kg
Rp. 450.000,-

Konsol Besi #11

$
0
0



Lima konsol besi antik
Sambungan masih memakai keling
Panjang 66cm
Rp. 450.000,-

Kurs Meja Rias Jengki #9

$
0
0

Kursi meja rias dari kayu jati
Original
39 x 39 x 31 cm
Rp. 275.000,-

Etalase Kayu #5

$
0
0




Etalase Kayu jati
Dimensi : Lebar126cm Tinggi 22 cm Panjang sisi 25cm
Kunci baru, salah satu engsel sudah diganti
Belum finishing ulang
Rp. 450.000,-

Foto Antik #51

$
0
0

 


Dua foto kecil, 8,5 X 5,5cm
Rp. 75.000,-

Nampan Porselain #11

$
0
0


 

 
Nampan porselain dimensi 38 x 24 cm
Pecah dan salah satu handle lepas
Rp. 275.000,-

Foto Keluarga Liem Seeng Tee

$
0
0

Foto 1
14 x 8,6cm






Foto 2
12 x 9,3cm
 

 



 Foto 3
12,5 x 9,5cm




Foto 4
12 x 9cm
 


Foto Keluarga Liem Seeng Tee, Pendiri HM Sampoerna


Liem Seeng Tee adalah seorang imigran dari sebuah keluarga miskin di Fujian, Tiongkok. Dia datang ke Indonesia pada tahun 1898 bersama kakak perempuan dan ayahnya. Tak lama setelah tiba di Indonesia, ayahnya meninggal.
Tidak lama setelah menikah dengan Siem Tjiang Nio tahun 1912, Liem Seeng Tee mendapatkan pekerjaan sebagai peracik dan pelinting rokok di sebuah pabrik rokok di Lamongan. Dari situ Liem memperlihatkan kemampuan alaminya dalam meracik dan melinting rokok. Namun tidak lama kemudian, Liem berhenti dari pekerjaannya itu dan menyewa sebuah warung kecil di Jln. Tjantian di Surabaya Lama. Di warung tersebut Liem bersama istrinya berjualan bahan makanan kecil, sedangkan Liem Seeng Tee berusaha berjualan rokok racikannya sendiri. Usaha ini sempat maju ketika jalan raya di depan rumah dilebarkan, sehingga jalanan menjadi ramai dan pelanggan meningkat. Tetapi perkembangan pertama ini langsung dihantam oleh pukulan pertama, gubug tempat tinggal keluarga muda ini terbakar.

Tak lama kemudian ternyata datang kesempatan kedua, sebuah perusahaan tembakau bangkrut, dan Liem Seeng Tee ditawari untuk membeli unit usaha itu dengan harga murah, tetapi harus dilunasi dalam waktu kurang dari 24 jam. Liem Seeng Tee merasa beruntung sekali, karena kesempatan yang tak mungkin muncul lagi itu berhasil diraihnya, karena diam-diam istrinya menabung pada salah satu tiang bambu rumahnya. Di unit usaha inilah Liem Seeng Tee berkesempatan memamerkan keahliannya sebagai peracik tembakau yang sangat andal. Di sini suami istri yang kemudian dikaruniai dua putra dan tiga putri ini melayani pesanan rokok dengan aneka citarasa, menggunakan mesin pelinting sederhana.

Tampaknya pasangan ini tidak puas dengan keadaan tersebut, dan bertekad untuk mengembangkan usaha itu menjadi lebih besar lagi. Langkah pertamanya adalah membentuk badan hukum dengan nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee (1913), yang di kemudian hari diubahnya menjadi Handel Maatschappij Sampoerna  (dan setelah Perang Dunia II berubah lagi menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna / HM. Sampoerna). Perusahaan ini memproduksi rokok dengan aneka macam merek dagang seperti Dji Sam Soe, “123″, “720″, “678″, dan “Djangan Lawan”. Semua merek itu ditujukan untuk beragam segmen pasar, tetapi andalannya adalah Dji Sam Soe yang membidik segmen pasar premium, dengan logo dan kemasan yang dipertahankan hingga sekarang.
HM Sampoerna mengalami kesulitan besar sepeninggal Liem Seeng Tee, ketika usaha itu dikelola oleh dua putri Liem Seeng Tee (Sien dan Hwee) dan menantunya, yakni suami kedua putrinya tersebut. Kesulitan besar itu muncul karena datangnya investor asing yang masuk ke Indonesia membangun industri rokok putih dengan teknologi linting mesin. Sementara itu dua putra Seeng Tee, Liem Sie Hua dan Liem Swie Ling, tidak tertarik meneruskan usaha HM Sampoerna. Liem Sie Hua, si sulung, lebih suka membuka usaha tembakau, sedangkan adiknya, Liem Swie Ling, membuka pabrik rokok di Denpasar dengan merek Panamas, yang produksinya ternyata ikut menggerogoti pasar HM Sampoerna di Jawa Timur.

Khawatir akan nasib HM Sampoerna, Sie Hua akhirnya menyurati adiknya, dan memintanya untuk mengambil alih perusahaan itu, karena dia merasa usahanya sendiri tidak bisa dilepaskannya begitu saja. Gayung pun bersambut, Liem Swie Ling menyanggupi permintaan itu, bahkan akhirnya juga memindahkan Panamas ke Malang, tak jauh dari HM Sampoerna. Liem Swie Ling, yang kemudian selalu memperkenalkan diri sebagai Aga Sampoerna, kemudian dengan kekuatan penuh mencoba menghidupkan kembali HM Sampoerna sesuai dengan semangat besar ayahnya. Itulah yang merupakan awal kebangkitan baru HM Sampoerna

Di tangan Aga Sampoerna perusahaan itu semakin berkibar. Di awal tahun 70an, seiring dengan masuknya Putera Sampoerna, putera Liem Swie Ling / Aga Sampoerna, ke jajaran manajemen, perusahaan terus berkembang pesat. Jumlah karyawan sudah mencapai 1200 orang, dengan produksi 1,3 juta batang rokok per hari. Tahun 1979 pabrik milik HM Sampoerna sempat kembali terbakar habis, tetapi dalam waktu 24 hari Dji Sam Soe sudah berhasil kembali mendatangi konsumennya. Aga Sampoerna meninggal dunia pada tanggal 13 Oktober 1995 meninggalkan perusahaan yang terus semakin maju pesat.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Liem_Seeng_Tee 

Harga Empat Foto:
Rp. 1.200.000,-

Lemari Art Deco (LMR145) - SOLD -

$
0
0











Lemari art deco kayu jati eks lemari gramophone
Kondisi original
Tunggi 121cm Lebar 70cm Panjang sisi 60cm
SOLD
Viewing all 2062 articles
Browse latest View live